Etnografi ala Rumah Bugis-Makassar
By: IJHAL THAMAONA
Satu masa di penghujung 2004.
Saat matahari mulai rembang petang, saya bersama Bissu Saidi pimpinan
bissu Segeri Pangkep kala itu, tiba di sebuah rumah seorang tokoh adat. Ketika
itu saya sedang penelitian. Tentu maksud kedatangan saya di rumah itu, bukan
lain, ingin mewawancarai si tokoh adat.
Sampailah saya di rumah panggungnya yang terlihat mulai doyong
ke kiri. Tidak berselang lama, tokoh adat itu muncul menemui kami.
Penampilannya sangat sederhana. Kemeja putih dan sarung yang mulai lusuh. Di
atas kepalanya menclok kopiah yang warna hitamnya mulai memudar. Kami duduk di
ruang tamu. Melantai. Di ruang tamu itu tak terlihat sebiji kursi atau pun meja.
Rumah yang betul-betul bersahaja, padahal yang punya adalah seorang tokoh adat.
Mulanya senyap. Tidak ada yang angkat bicara. Namun apa yang
terjadi kemudian, betul-betul saya tidak pernah sangka. Tidak lama saya duduk
di ruang tamu ketua adat ini, tak ada angin-tak ada hujan, ia tiba-tiba
menggebrak lantai papan tempat kami duduk.
Tentu saja saya kaget tak ketulungan. Saya memandang ke
Bissu Saidi, saya ingin bertanya: “Ada apa? “Apa salah dan dosaku ini?” Tetapi Bissu Saidi memberi isyarat untuk diam.
Setelah menggebrak meja, sang informan yang merupakan laki-laki
setengah baya ini, mulai marah-marah dalam bahasa Bugis. Lamat-lamat saya
menangkap ucapannya. Katanya: “Untuk apa ke sini?” “Apa yang
kau cari di rumah ini?” “Kalian hanya
datang mengganggu para arwah nenek moyang yang menjaga sureq (naskah)
yang telah kami simpan dengan rapi.”
Saya masih dicengkau suasana. Bissu Saidi juga masih diam.
Tetapi setelah beberapa jurus kemudian, sesekali Saidi mulai
menimpali. Dan suatu ketika, dalam perkiraan yang
matang atau mungkin juga karena wangsit, Saidi
pun balas menggedor lantai rumah. Perlahan ucapan-ucapan keras
laki-laki berkopiah lusuh ini mulai menurun. Malah kini
ia bicara dalam bahasa Bugis, kadang dicampur dengan
bahasa Indonesia. Nadanya getir.
Dia menjelaskan kondisi dia sebagai pemilik naskah yang sering
didatangi oleh para pemburu naskah dan peneliti. Menurut ceritanya, para
pencari naskah itu terlihat penuh perhatian pada saat datang mencari naskah, berempati
padanya, bahkan di antara mereka ada yang berjanji untuk memperbaiki rumahnya
karena dianggap sebagai salah satu
tempat penyimpangan naskah.
Sayangnya setelah naskah mereka salin, penelitian telah usai,
janji tak pernah ditunaikan. Si
peneliti pun tak kujung datang. Jangankan memperbaiki rumahnya yang telah doyong itu,
bahkan para peneliti dan pencari naskah itu terasa telah menjadi orang asing.
Jauh tak terjangkau. Mereka telah menjadi orang hebat. Meraih
gelar tinggi. Jadi pejabat. Presentasi
di dunia-dunia asing. Dan tak sekalipun kembali menyapanya. Padahal dulunya bagai kerabat dekat, seperti sanak kadang dan handai
tolan yang rapat.
Mendengar cerita getir lelaki setengah baya ini, lamat-lama saya
ingat cerita seorang rektor Perguruan Tinggi termuka di Indonesia. Cerita
tersebut saya baca di salah satu tulisan di media online. Konon, rumah
orang tua si rektor ini pernah ditempati oleh salah satu antropolog
dan indonesianis terkemuka. Ketika itu,
si antropolog tersebut sedang meneliti di Indonesia.
Pada suatu ketika anaknya (rektor yang menceritakan kisah ini ) akan melanjutkan studi ke luar negeri. Bapaknya
lantas teringat bahwa dulu pernah tinggal seorang peneliti asing di rumahnya
dan mereka sangat akrab. Dalam benak si bapaknya rektor ini,
meyakini, peneliti tersebut
pasti
mengingat dirinya. Karena itu dia menitip oleh-oleh ke anaknya untuk si
peneliti asing tersebut. Sepasang wayang kulit. Maka diboyonglah wayang
kulit ini ke Amerika, tempat si anak akan melanjutkan studi.
Singkat cerita dia ketemu dengan si peneliti terkemuka itu. Lalu
dijelaskanlah siapa dirinya. Tetapi dia sedikit kaget karena si peneliti
tersebut menyambutnya dengan dingin. Bahkan dalam pandangan si anak, si
peneliti tersebut seakan-akan tidak mengenal ayahnya. Ketika oleh-oleh ayahnya dia serahkan, ada
kesan tidak senang dari sang peneliti kawakan tersebut.
Apa yang digambarkan ayahnya bahwa sang peneliti asing itu
sangat akrab dengan ayah dan ibunya, sama sekali tidak dia rasakan setelah
pertemuan dengan sang peneliti asing tersebut.
Setelah peristiwa tersebut ia mulai berpikir, bahwa seorang
peneliti dan antropolog asing, betul-betul membangun keakraban dengan informan,
sebatas sebagai bagian dari metodologi penelitian
dan
kepentingan menggali data. Kedekatan yang dibangun ternyata palsu. Tidak ada hubungan kemanusiaan
yang benar-benar sejati di sana.
Meski tidak persis sama, tetapi cerita laki-laki setengah baya
tadi, mirip dengan kisah si rektor tersebut. Si peneliti
dalam dua cerita tersebut, hanya datang, berusaha akrab dan melebur dengan
informan sebatas kepentingan penelitian .
Metode etnografi semacam ini, rupanya dalam konteks masyarakat
Bugis-Makassar justru menimbulkan kejenuhan. Orang yang sudah sering didatangi
para peneliti, mulai bosan dengan segala maksud dan tujuan peneliti tersebut.
Karena itu, mereka mulai menilai siapa yang datang. Dalam penilaian itu, mereka tidak sekadar
membaca siapa orang yang datang serta apa kepentingannya, tetapi juga menjajaki
sejauh mana kesungguhan, keikhlasan dan pemihakan mereka terhadap yang
diteliti.
Puang Matoa Saidi yang ikut bersama saya berhadapan dengan ketua
adat tadi, menjelaskan, bahwa ketika lelaki berkopiah usang tadi marah-marah,
sejatinya ia tengah kemasukan. Ia ketitisan roh nenek moyang. Melalui roh nenek
moyang itu, ia sedang menjajaki apa kepentingan saya, serta menguji kesungguhan
dan keikhlasan saya untuk membela kepentingan komunitas bersangkutan.
Saya tidak tahu apakah lelaki tersebut betul-betul tengah
ketitisan nenek moyang saat menggebrak meja atau tidak, tetapi saya meyakini
bahwa itulah cara dia menguji kesungguhan dan keikhlasan saya untuk mengetahui
kebudayaan mereka. Dari situlah saya belajar, bagaimana secara sungguh-sungguh
saya bisa diterima sebagai bagian dari komunitas, bukan semata-mata karena saya
punya kepentingan mencari data.
Dalam kebudayaan Bugis untuk mendapatkan informasi, data atau
ilmu tertentu memang harus melalui tahapan-tahapan. Tahapan tersebut menentukan
tingkat kepercayaan komunitas yang diteliti terhadap peneliti.
Tahapan pemberian ilmu, data dan informasi itu menggunakan
filosofi bertamu orang-orang Bugis. Filosofi
bertamu itu, yakni: tamu yang diterima
di sumpang bola (serambi rumah), tamu diterima di tengga bola
(ruang tamu), tamu diterima di jongki bola (ruang dalam, dapur atau
ruang keluarga) dan tamu diterima di laleng boco (di dalam kelambu).
Filosofi bertamu ini dalam hemat saya, merupakan
metode etnografi ala Bugis-Makassar dalam menggali satu
ilmu atau data. Jika saya hanya diterima
di sumpang bola, maka itu berarti saya belum berhasil diterima oleh
penduduk yang diteliti. Saya belum berhasil, dalam istilah Rogers, dressed
down, yakni belum bisa melepas baju sebagai pendatang dan melebur dalam
masyarakat. Dalam posisi seperti ini biasanya peneliti dituntut membangun unconditional positive regard, yaitu membangun hubungan antara
pribadi yang positif dengan dilandasi sikap saling menghargai tanpa syarat.
Tahap selanjutnya adalah diterima di tengnga
bola. Pada tahap ini tamu
(peneliti)
mulai disambut, tetapi formal dan posisinya tetap sebagai tamu. Jika dikaitkan
dengan pengumpulan data, maka data-data yang diperoleh masih data permukaan.
Meminjam istilah Geertz, peneliti hanya
memperoleh thin description (data permukaan). Ia belum bisa menemukan
informasi pada lapisan-lapisan makna yang terdalam dari suatu peristiwa
kebudayaan. Berbeda halnya jika seorang peneliti telah diterima di dapur (jongki bola),
maka filosofinya, informasi yang lebih mendalam sudah bisa didapatkannya atau
dalam istilah Geertz “thick description” (deskripsi mendalam). Apalagi
jika sudah diterima dan berbicara di balik kelambu (ilalang boco), maka seorang peneliti sudah mendapatkan informasi rahasia, bahkan
sudah dapat ilmu-ilmu tertentu, mantra warisan leluhur,
dan data-data yang unik.
Tentu saja tidak mudah untuk diterima
di jongki bola (ruang
keluarga) apalagi laleng boco (di balik kelambu). Di sinilah proses melebur dan membangun keakraban
diuji. Di sini pulalah keikhlasan, kesungguhan dan kerelaan menjadi bagian dari
komunitas sedang ditakar.
Jika keakraban yang dibangun hanya
keakraban semu, bukan kedekatan yang sejati, jangan harap bisa mendapatkan
informasi dan ilmu yang penting. Dan jika proses melebur itu hanya semata-mata
agar bisa mendapatkan data, bukan karena sungguh-sungguh ingin belajar dan
menjadi bagian dari komunitas, bisa diprediksi kita tidak akan pernah diterima
di jongki bola
dan ilalang boco.
Seorang antropolog senior di Bugis-Makassar
yang saya kagumi, bercerita mengenai pengalaman dia untuk mendapatkan
kepercayaan dari satu komunitas. Suatu ketika, dia diuji oleh pimpinan
komunitas itu; apakah dia berani mengiris/menusuk sedikit lehernya dengan
keris. Karena dia memang ingin belajar dengan ikhlas terhadap komunitas
tersebut, maka ujian itu dia jalankan. Setelah itu barulah ia dapat diterima ilaleng
boco. Di situlah ia mendapatkan banyak data, mantra, ilmu leluhur
dan informasi rahasia yang sangat penting.
Di mata saya,
begitulah rupanya metode etnografi ala Rumah Bugis-Makassar. Etnografi yang Anda gunakan harus berfungsi
sebagai metode yang bisa mendekatkan Anda secara sungguh-sungguh dengan
komunitas yang diteliti. Kedekatan, yang membuat jarak Anda dengan yang diteliti
semakin menipis bahkan mungkin telah sirna.
Keakraban itu sendiri tidak akan pernah pupus, kendati
penelitian itu sendiri telah usai. Dan suatu ketika kearaban itu bisa saja
meningkat menjadi pembelaan terhadap komunitas yang ditelitinya.

Komentar
Posting Komentar