Peneliti dan Refleksi Sarjana yang Mengabdi pada Tanah

 By: Ijhal Thamaona


Saya terpesona menonton salah satu serial Drakor (Drama Korea). Judulnya saya lupa, tetapi jalan ceritanya begitu membekas. Seorang dokter yang mengabdikan dirinya untuk menyembuhkan pasien. Jika proses penyembuhan yang dia lakukan kandas, ia tidak menyerah. Sang dokter balik ke laboratoriumnya meneliti tanpa ingat waktu, bahkan lupa dengan kariernya sendiri. Setiap berhasil menolong pasien, setelah riset yang dia lakukan diterapkannya, wajah memancarkan rasa bahagia. Mana kala ia gagal menolong pasien, parasnya tak bisa menyembunyikan kecewa dan kesedihan mendalam.  Baginya profesi dokter dan riset yang digelutinya hanyalah untuk manusia dan kemanusiaan. Kebahagiaannya manakala ia berhasil menerobos batas ilmu kedokteran dengan temuannya di laboratorium yang berhasil menolong pasiennya.

Lalu saya bercermin. Dalam bayangan di cermin terpampanglah sosok saya, seorang peneliti negara dengan id card terkalung di leher. Rasanya malu saya menatap bayangan itu, yang selama ini hanya mengabdi pada industri jurnal scopus, makalah di seminar dan pidato yang hanya meledak-ledak di forum. Semuanya demi apa?  Yang dikejar hanya kredit poin demi menapaki karir lebih mentereng.  Saya merasa berada di atas menara. Melihat masalah rakyat dari ketinggian. Tak menapak di bumi. Apalagi mengabdi pada tanah, tanah air, tanah rakyat dan tanah ibu pertiwi ini.

Lalu saya teringat sebuah kisah, cerita nyata dari negeri sendiri. Bukan drama di layar televisi, dari negeri para opa-opa. Kisah itu hadir di sini, di masa lalu, tentang seorang sarjana yang mengabdi pada tanah, mengabdi pada rakyatnya, mengabdi pada ibu pertiwinya. Untuk itu, ia rela melupakan karirnya, bahkan studinya. Kisah ini tentang sosok seorang mahasiswa yang namanya menjadi legenda di almamaternya. Saya akan tuturkan ulang kisah lelaki yang semoga menginspirasi para peneliti. Riwayatnya telah di buat novel oleh Hanna Rambe; Seorang Lelaki di Waimital

Sarjana yang Mengabdi Pada Tanah

Siapakah sosok mahasiswa yang dielu-elukan oleh para mahasiswa IPB di seantero penjuru itu? Siapa dia, yang sampai Taufiq Ismail penyair kesohor itu bikin puisi khusus untuknya dan juga bilang begini: “Kalau ada orang bertanya kepada saya, siapakah di antara seangkatan saya yang dapat saya banggakan sebagai manusia Indonesia, dalam hal kerja keras dengan ikhlas dan hidup sederhana, saya tak dapat menjawabnya. Saya tak tahu orang yang tepat untuk dibanggakan, namun mulai hari ini atau mulai September 1979, saya dapat menjawab pertanyaan itu. Orang itu ialah Kasim, Kasim Arifin.”

   Kasim Arifin hanyalah mahasiswa sederhana dan rendah hati. Dalam tiap even mahasiswa, tak pernah ia menonjolkan diri untuk tampil mengesankan di panggung depan. Dia selalu memilih di belakang dan bekerja dalam senyap. Ia tak hirau publikasi. Ia selalu memilih mengerjakan tugas-tugas seksi konsumsi. Tetapi semua mengakuinya, jika dia mengerjakan tugas konsumsi itu, perempuan akan jatuh malu melihatnya. Ia melakukannya rancak nan apik.

    Namun bukan karena aktivitas dalam even mahasiswa, Kasim begitu istimewa dalam kenangan sejawat, dosen, bahkan mahasiswa IPB, sundut menyundut hingga hari ini. Tetapi ingatan tentang Kasim abadi,  karena kerelaannya mengabdi pada suatu kampung yang jauh di pelosok, tetapi bukan kampung halamannya. Kampung itu berada di Kepulauan Seram Barat, Maluku. Waimital namanya. 

Lima belas tahun Kasim menghilang. 1964 ketika kampus menugaskannya dalam Program Pengerahan Mahasiswa (PPM; sekarang KKN) ke Pulau Seram, ia tidak kembali. Transmigran miskin di Waimital membuat nuraninya bergetar. Kuliahnya yang belum rampung dilupakan. Gemuruh politik di titimangsa itu tak membuatnya tertarik kembali ke salah satu pusat kota republik ini. Ia tenggelam dalam pengabdian pada masyarakat transmigran di Waimital. Di sana, sebagaimana disebut Taufiq Ismail dalam puisinya, Kasim berupaya mencetak harapan.

Di Waimital, Kasim jadi petani, ia mencetak sawah-sawah baru, menyemai bibit padi agar orang-orang bisa ikut memanen, ia merancang irigasi agar tanah kering jadi subur, ia membuka jalan desa agar hasil pertanian bisa didistribusi, ia mencontohkan cara meransum gizi Sapi Bali agar para peternak bisa menggemukkan sapi.  Bahkan ia menjadi pelopor mendirikan sekolah, agar anak-anak di Waimital juga menikmati pendidikan. Semuanya dilakukan mandiri bersama rakyat desa.

Banyak yang dilakukannya dan masih banyak cita-citanya, hingga desakan pulang dari kampus untuk menyelesaikan kuliah sia-sia belaka. Panggilan dosen bahkan rektornya Andi Hakim Nasution, tak membuat tekadnya bergeser. Ia tetap bergeming, membersamai masyarakat di Waimital. Hingga seorang teman harus diutus untuk memanggilnya pulang. Andai bukan karena rasa tidak enak pada kesungguhan teman, dosen, rektor dan kampusnya agar dia menyelesaikan kuliahnya, Kasim tak akan pulang.

Ketika pada akhirnya ia pulang, ia hanya datang dengan sandal jepit, baju lusuh, tubuh kurus, dan kulit gelap karena selalu terpanggang sinar matahari. Dosen dan sejawatnya memandang dengan haru, tetapi sekaligus tunduk dengan rasa hormat.  Amat langka mahasiswa, bahkan manusia macam begini. Beberapa tahun yang lalu para seangkatannya telah selesai. Kini mereka banyak yang telah duduk di sebuah jawatan, bekerja dalam ruangan ber-ac, menghitung gaji setiap bulan. Tetapi Kasim begitu berbeda, ia telah merobohkan karier birokrasi dan mencampakkan kemungkinannya mendapatkan gaji. Ia lebih memilih mengabdi pada petani, tanpa biaya dari siapa pun. Tak heran jika melihat Kasim, akhirnya Taufiq Ismail malu pada dirinya sendiri. Katanya:

Di Waimital Kasim mencetak harapan
        Di kota kita mencetak keluhan…
        Dan kemarin di tepi sungai Ciliwung aku berkaca
        Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
        Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku…

Untuk menyelesaikan kuliah, ia diminta menuliskan semacam karya ilmiah. Tapi dia sudah tak akrab dengan kertas. Tak pandai ia memainkan mesin ketik. Ia lebih piawai menggayungkan cangkul daripada menggoreskan pena. Temannya dengan bersemangat membantu, dia diminta bercerita tentang pengalamannya di Waimital. Tugas ilmiah sebagai syarat diwisuda pun rampung.

22 September 1979, hari di mana Kasim diwisuda. Sejawatnya merubung dia, menggantikan pakaian yang teramat biasa yang dikenakannya dengan jas, mencopot sandal dan menggantinya dengan sepatu. Kasim merasa tersiksa dengan pakaian itu. Ia terbiasa dengan sandal jepit atau berkaos oblong di bawah terik matahari Waimital, tapi kini harus terkunci dalam balutan jas.  Tetapi kebaikan teman-temannya tak kuasa ia tampik.

Saat momen wisuda berlangsung, Kasim harus dipaksa tampil ke depan. Ia yang terbiasa di belakang dan tak nyaman dengan popularitas, sangat canggung dengan penghargaan. Tepuk tangan yang menyambutnya malah membuatnya berkeringat. Namanya yang disebut berulang kali, pengabdiannya pada petani yang dibanggakan kampus, membuatnya gemetar. Ia memang lelaki sederhana, yang memilih bekerja dalam senyap. Maka begitu selesai wisuda, ia memilih kembali lagi ke Waimital, mendampingi petani untuk beberapa lama. Tawaran beberapa pekerjaan menggiurkan ditampiknya, sebab baginya tugasnya di Waimital belumlah selesai.

Tidak  sekali itu saja Kasim merasakan kegerahan atas penghargaan terhadap dirinya. Pada 1982, ketika dia dipanggil menerima hadiah kalpataru dari pemerintah, di tengah-tengah acara dia pulang diam-diam. Piala Kalpataru disimpannya di bawah kursi. Orang sampai harus membawakan kembali piala itu ke rumahnya.

Mohamad Kasim  Arifin telah menunjukkan pada kita, masih ada sarjana yang tidak menjadikan Pegawai Jawatan atau Pegawai Negeri sebagai bukti keberhasilan. Ia menunjukkan, tugas mulia seorang sarjana adalah jika ilmunya bisa dibumikan di masyarakat secara konkret, apa pun bentuk ilmunya itu. Bukankah kata pepatah Arab: “Al-ilmu bilaa amalin ka syajari bilaa tsamarin(Ilmu yang tidak dibumikan, ibarat pohon yang tidak berbuah)”.

Mungkin Kasim Arfin tidak menjadi kaya, pangkatnya tidak tinggi, gelarnya bukan professor dan kehidupannya sangat bersahaja, tetapi pengabdiannya telah membuat namanya dikenang sepanjang zaman. Namanya menjulang ke langit . Masyarakat tempat dia mengabdi memberikan penghormatan luar biasa. Kasim Arifin dipanggil “Antua”, sebuah gelar kehormatan di pulau Seram yang hanya disematkan pada orang-orang terpilih. 

Kasim Arifin telah hidup sekali yang berarti, lalu meninggalkan dunia yang fana ini.  Masikah kini kita akan menemukan Kasim-kasim yang lain?  Apakah kelak akan muncul dari institusi yang bernama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini?  Saya percaya selama masih ada kaum intelktual dan sarjana yang memilih mengabdi pada tanah, selama itu pula akan selalu muncul Kasim-kasim berikutnya, entah di mana. Mungkin dari BRIN dan mungkin saja sekarang sudah ada Kasim-kasim itu di Brin. Semoga….

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Miskin Jadi Sarjana: Bukan Keajaiban, Tapi Tanda Gagalnya Sistem Pendidikan

Piagam Menara Gading

Ritual Mappeca Sure (Bubur Asyura); Tak Sekadar Memperingati Tragedi